Isteriku Tiada Duanya
I. Jatuh Cinta dari Betis Naik ke Hati
“Tidak cukup halaman-halaman buku ini menggambarkan semua kebaikan dan kasih yang sudah saya rasakan bersamamu, kekasihku Chlotilda Then Lie Fong. Namun yang sedikit ini kiranya bisa menemani kita berdua mengisi sisa hidup kita. Bila suatu saat salah satu dari kita sudah lebih dahulu menghadap Bapa di Sorga, mintalah pada cucu kita untuk membacakan tulisan ini, sebagai obat rasa rindu”
Pertama kali saya menulis artikel ini, usia perkawinan kami baru 36 tahun (2009), itupun sudah cukup membuat saya merasakan betapa besar kasihnya. Sekarang memasuki tahun ke empat puluh delapan (2021), semakin berlimpah kasih yang kurasakan. Sudah 48 tahun Chlotilda Then Lie Fong, istriku tercinta mendampingi saya dalam untung dan malang, juga dalam sehat dan sakit. Kendati ketika menikah, usia kami tergolong masih muda, dibandingkan dengan usia berumah tangga anak anak kami. Saya berusia 24 tahun dan pacarku ini berusia 20 tahun.
Walau menikah di usia muda, saya yakin jodohku ini merupakan karunia dari Allah. Sesungguhnya saya berencana menikah pada usia 22 tahun. Ketika saya berimajinasi melihat sebuah foto di majalah Scale Jerman pada tahun 1968. Dua orang gadis difoto dari belakang, yang tampak hanya kepala, punggung, tinggi dan betis. Lalu kukatakan pada diriku: "Martin inilah profil fisik istrimu nanti...", karena saya sungguh mengagumi betis yang putih mungil dari ukuran tingginya hanya 148 cm. Gambar itu kuberi bingkai yang cantik, dan saya meletakkannya ke pintu keluar kos di Turisari 23 Solo. Setiap kali berangkat kuliah kutatap foto itu, sambil berdoa kiranya Tuhan berkenan memberikanku jodohku seperti wanita di foto itu.
Selesai sekolah pada tahun 1970, saya pulang ke Timor untuk menjadi guru di STM Santo Yosef di Nenuk. Di suatu minggu pagi, dalam perjalanan ke gereja Katedral Atambua, di depan saya ada seorang perempuan cantik. Kabar burung, ia adalah kembang tercantik di Atambua saat itu. Ia pendek seukuran foto yang kusimpan selama ini. Betisnya lebih cantik dari betis di foto itu, karena betis ini benar hidup. Ketika itu, tren dunia sedang rok mini. Maka tampak jelas bukan saja betisnya tetapi sampai ke sebagian pahanya yang mulus. Dalam hati saya berpikir, inilah wanita yang ku idam-idamkan selama 3 tahun yang lalu dan, kini ia berada di depan mataku. Komando sudah jelas, maka tidak yang dapat menghentikan langkahku untuk mempersunting gadis idamanku itu. Akhirnya saya menang dalam memperebutkan gadis cantik ini.
Proses pacaran berjalan lancar, karena banyak dukungan dan promosi pada posisi saya. Ada Ansel Usboko, Ameu siswaku di STM Santo Yosef Nenuk yang juga sepupu istriku. Ia menjadi pengantar surat surat cinta dan juga banyak bercerita tentang kehebatanku dalam hal aplikasi listrik. Ada Quido Chan Usboko, Ko Djan, kakak sepupu calonku yang sangat mendukung hubungan kami. “Orangnya baik” katanya. Lebih daripada itu Pater Anton. van Lieshout SVD, ia banyak bercerita tentang saya kepada calon mertuaku Then Kiung Sen. Pokoknya posisiku berada diatas angin. Akhirnya kami direstui oleh orangtua kami masing untuk menerima Sakramen Perkawinan, 20 Desember 1973 oleh Pater Adi Conterius SVD.
Masa pacaran kami bisa dikatakan “panas dan bergelora” nyaris gila. Singkat dan lengket seperti perangko dan amplop. Ada kursi ukir di rumah Simpanglima menjadi saksi, bagaimana masa pacaran kami, terutama ketika saya menjadi “tergila”. Rasanya setiap detik mau berada bersama dia, bukan hanya bergandeng tangan, duduk di samping, terkadang kekasihku saya pangku. Kami duduk di sudut ruang tamu sambil menonton orang bermain bola di lapangan bola kaki. Sudut yang gelap, membuat kami berpacaran tersembunyi. Tetapi pasti adik adik, Welly, Bruno, Lorry dan Sin mengetahuinya dimana kami berada dan seperti apa berpacarannya kami. Setiap hari sehabis mengajar di Nenuk yang berjarak 7 km dari Atambua, saya pulang dan menginap di rumah Jos Manek Asit, sekamar dengan Liem Kat Fa.
Pater Adi Coterius SVD, memberkati cincing pertunangan Juli 1973.
Setiap sore saya sudah “mel” bahasa Timor artinya berkunjung ke rumah kekasih. Biasanya, ia sudah mandi dan tampak cantik sekali. Kami mengobrol sampai makan malam. Dan ini bisa mengganggu tugas rumah yang menjadi tanggung jawabnya. Saya sadar, satu sisi ia masih dibawa kuasa orang tua tetapi disisi lain saya “menuntut” perhatian darinya. Sungguh berat posisinya. Sehabis makan malam diteruskan sampai semua sudah masuk tidur. Mungkin sudah terlalu lama bersama “anaknya”, kadang sampai menjelang jam 12 malam, Papa mertua keluar ke kamar mandi, sambil mengeluarkan suara seperti mengusir- mengusir anjing husss husss hussss. Saya memang sudah tidak tau malu lagi. Kekasihku juga tidak menyuruh saya pulang. Kejadian ini setelah kami resmi bertunangan.
Saya memang gila, gilanya seorang Sanguinis, pemimpin sirkus, yang memimpin sekumpulan pemain sirkus, memperlakukan semua dalam suasana gembira. Suatu ketika Mama mertua mengajak ngobrol rencana pernikahan kami. Maksud Mama masih mau tunda lebih lama, spontan saya jawab: “Sonde bisa mama nanti kalau terjadi apa-apa beta sonde tau” Tetapi saya sangat terkesan dan menghargai cara pikir mertuaku papa Then Kiung Sen. Ia menghargai pilihan anaknya, kendati ada beberapa pemuda dari kalangan orang berada yang mencoba merayu anaknya.
II. Kami Resmi Sebagai Suami Istri
Pater Adi Conterius SVD menerimakan Sakramen Perkawinan, 20 Desember 1973 di saksikan Dr Alex Usfinit dan Benedictus Mathaus BA.
Sebagai guru, saya mendapat kesempatan menerima Sakramen Perkawinan di Kapel SVD Regio Timor di Nenuk. Pater Adi Conterius SVD memimpin upacara dengan sangat baik dan siswa siswa STM Santo Yosef Nenuk membawakan lagu gereja dengan iringan orkestra terbaik di sekolah itu, yang dimainkan oleh Daniel Taolin, Steve Gero, Boy Salasa dan siswa STM Nenuk lainnya. Satu hal yang selalu kuingat, Bapak Uskup Theodorus van den Tillaart membantu saya, dengan meminjamkan uang Rp. 250.000 untuk berbulan madu ke Jawa dan Bali.
Pemberkatan Nikah di Kapel SVD Nenuk Timor, 20 Desember 1973.
Pernikahan kami sederhana, istilah waktu itu nikah peknik. Maka setelah diberkati ada pesta kecil dan setelah itu, kami mengganti pakaian pengantin lalu meninggalkan para tamu untuk pergi berbulan madu. Ada orangtua yang berkomentar: "ini perkawinan orang gila, pengantin sudah pergi tinggalkan kita duduk sendiri" Sebuah Toyota Kanvas plat merah milik Kepala Kehutanan Di SoE kami berhenti dan malam di Hotel Mutiara dan, selanjutnya ke Bali, Yogya. dan Jakarta. Beberapa hari dengan menyewa motor kami keliling tempat tempat pariwisata terkenal di Bali dan bermalam di Hotel dan sempat bertemu teman Sekolah Dasar dan SMP Donbosco Atambua, Desiderius Bere Tarak.
Karena keterbatasan uang, bulan madu di Yogyakarta kami minta izin menggunakan kamar kosong Asrama Timor di Gunung Ketur. Kakakku Gabriel Desanto (Ko Tjong) berbaik hati meminjamkan sebuah kamar. Suasana rumah kos seru dan menggoda, karena ada sepasang penganting baru berada di antara orang orang muda.
Pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika kami mau melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan bus. Waktu itu Jogjakarta hujan deras, tetapi tetap saja teman teman kos mengantar kami ke stanplat bus. Ketika mau berangkat ternyata penghapus kaca depan tidak bekerja. Hal ini membuat Yulius Bria marah marah. Namun tetap saja bus berangkat dalam keadaan tidak sempurna dan, kernet harus memberikan tembakau ke kaca mobil untuk menghilangkan kaca mobil yang buram. Perasaan kamipun diliputi rasa was was.
Keberangkatan dari Kupang ke Bali kami menggunakan penerbangan Garuda, Fokker 27, pulangnya kami menggunakan kapal laut kecil Stella Maris. Selain harga tiket lebih murah, juga merasakan perjalanan romantis, tidur di antara puluhan penumpang yang pulang ke Timor. Perjalanan menyusuri pantai pantai kepulauan Nusa Tenggara terasa amat romantic. Ketika pagi tiba kami berada haluan kapal memandang di kejauhan pantai yang indah dengan nyiur melambai dan, terbitnya matahari pagi sambil menghirup udara yang bersih.. Banyak lumba lumba yang mengiringi kami sampai pada suatu saat di selat Sape, antara pulau Sumbawa dan Flores, kapal kecil berputar dua kali 360 derajat di lokasi pertemuan arus. Peristiwa berlangsung demikian cepatnya membuat banyak dari kami dihinggapi rasa takut luar biasa. Kemudian awak kapal mengatakan bila ketika kapal berputar dan mesin kapal mati maka kapal akan terhisap masuk ke dasar laut, wow sungguh mengerikan. Puji Tuhan kami diselamatkan dari marabahaya tersebut.
III. Anak Pertama Diikuti dengan Anak Kedua, Ketiga dan Keempat
Masa kehamilan anak pertama diisi dengan saling menyesuaikan diri. Kami sering berjalan sejauh 7 km, lewat belakang hutan jati Lalian, menyusuri kali Telau, untuk mencapai kota Atambua dimana mertua saya tinggal. Ternyata aktivitas ini, mempermudah proses melahirkan anak pertama kami. Egi Thadeus Umriso Teiseran lahir ada 22 November 1974.
Kung Then Kim Fung, ayah dari papa mertua Then Kiung Sen menggendong cicit pertamanya anak kami Thadeuz Umriso Teiseran, tahun 1974 di Simpang 5 Atambua Timor.
Ketika anak pertama, lahir sebagai guru hidup kami pas pasan saja. Kelahiran anak pertama ini mendapat bantuan jasa bidan ibu Felix Morgen, istri teman guru STM Felix T Morgen. Ketika istriku berusaha melahirkan anakku, ia berteriak kesakitan. Saya bingung dan hanya bisa berdoa dan memegang kedua tanganku. Entah dari mana idenya, saya pun meniup ke ubun ubun dan dahinya maka lahirlah anak kami yang pertama, Egi. Semua pekerjaan untuk mencuci membersihkan pasca melahirkan saya lakukan sendiri di kamar mandi. Karena tidak ada pembantu, setiap pagi saya memandikan isteri dan Egi anakku, kemudian saya berangkat mengajar.
Seorang Pastor Polandia Thadeuz Batkoviak SVD menjadi bapak angkat ketika anak pertamaku lahir dan dibaptis oleh Pater Smith SVD dengan nama Thadeuz. Ia menyerahkan 2.5 Gulden mata uang Hindia Belanda sebagai tanda ikatan, Pastor ini sangat membantu pada awal kami berkeluarga, nyaris setiap pagi dan sore ia datang memeriksa untuk mengganti daftar minum anak serta mengatakan untuk tidak menggendong anak selama 7 hari pertama. Hal ini perlu dilakukan agar anak disiplin, mandiri dan sehat di kemudian hari. Memang benar anak kami menjadi disiplin tidak menangis pada malam hari dan perkembangan fisiknya bagus. Sekarang cara itu kami terapkan kepada cucu-cucu kami. Cucu cucu, wajib training 1 bulan di rumah popo dan kung. Kontribusi pastor Polandia ini amat besar berpengaruh kepada anak cucu kami di kemudian hari.
Suatu hari Egi mengalami demam, dan karena rumah kami dekat Rumah Sakit Tentara maka anakku diobati oleh Dr Sardjono. Egi disuntik dan kemudian tidak bisa berdiri lagi, hati kami bingung panik, apakah akan lumpuh selamanya karena polio. Puji Tuhan semua akhirnya menjadi lebih baik, Egi pulih.
Banyak dokter tentara berada di sekitar tempat tinggal kami karena ada pergolakan di Timor Portugis. Akibat pergolakan itu, terjadi pengungsian besar besaran ke wilayah Indonesia, lalu dibangun Rumah Sakit Tentara di lapangan bermain SD Nela Desa Nela Nenuk.
Hanya istirahat 4 bulan, isteriku menunjukan kehamilan kedua. Maka lahirlah anak kedua yang hanya selisih hanya 13 bulan dengan yang kakaknya, Donatus Umriso Teiseran, yang lahir 9 Januari 1976.
Sebagai keluarga baru, kami beberapa kali mengalami ketegangan. Mungkin isteriku capek, dan saya kurang mau merasakan apa yang sedang ia rasakan. Maka terjadi untuk pertama kali saya melakukan “kekerasan” Karena jengkelnya, saya memeluk istriku keras keras, namun tidak berlangsung lama, pelan pelan saya melepaskan dan memohon maaf pada istriku. Inilah satu satunya tindakan “kekerasan” yang pernah terjadi selama usia pernikahan kami. Setelah itu, bila ada masalah kami mencoba menyelesaikan dengan doa dan komunikasi. Kalau ada yang bersuara meninggi yang lain sudah diam. Atau kalau saya berlebihan maka istriku hanya bisa menangis. Ketika itu hatiku menjadi luluh dan dengan kasih-sayang kupeluk dan kucium keningnya serta memohon maaf.
Tidak ada pembantu di rumah, maka setelah persalinan dibantu ibu Felix T Morgen, selanjutnya saya sendiri membersihkan, mencuci semua bekas persalinan. Sejak bayi anak anak sudah tidur di tempat tidur tersendiri. Ketika Donny berusia 3 hari ia rewel dan menangis terus menerus. Karena sudah pengalaman mendisiplinkan anak maka saya biarkan saja ia menangis nonstop dari jam 23.30 hingga pagi jam 05.00. Setelah itu Donny menjadi disiplin, tidur tanpa rewel sampai pagi. Istriku bisa istirahat cukup.
Anak kedua lahir di Nela Nenuk Atambua Timor, 9 Januari 1976, Donatus Teiseran. (Foto: Thadeuz Batkoviak)
Naluri seorang mama tidak tega mendengar anaknya anaknya menangis tetapi saya menahan untuk tidak menggendong. Untuk membuat anak bisa tidur malam tanpa mengganggu orang tua, pada siang hari kami tidurkan di ruangan lain. Pater Thadeuz Batkovick mengatakan bahwa anak itu sensitif. Selama 9 bulan 10 hari ia terbaring nyaman dalam rahim ibunya yang hangat. Bayi akan merasa tidak nyaman sehingga ia sering menangis. Ia mencari kebiasaan baru. Bila setelah lahir sering menggendong maka mereka akan terus minta digendong dan ini merepotkan orangtua. Tetapi bila dibiarkan tidur di tempat tidurnya, maka tidak lama kemudian ia menjadi biasa. Sesuatu yang kita lakukan 21 kali terus menerus pada waktu yang sama, maka kebaikan itu akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang dilakukan terus menerus pada akhirnya menjadi karakter kita. Itulah yang terjadi pada Donny, disiplin tidak bangun pada malam hari. Anak anak juga tidak tidur pada tempat yang sama, kalau malam di kamar siang di ruangan lain. hal ini membuat bayi membedakan siang dan malam.
Enam bulan sebelum kami pindah ke Solo, lahir anak 3, ia seorang perempuan yang cantik, Maria Goretti Teiseran 4 Januari 1978. Ketika ia lahir saya sedang bekerja di Fatunakaf di Rank Timlico Timor yang berjarak sekitar 40 km dari rumah kami di Atambua. Kelahiran anak ke 3, saya tidak berada disamping isteriku, ia dibantu oleh Bidan Lena di Tubakioan Atambua. Kejadian tidak terlupakan adalah ketika Atik lahir saya tersengat kalajengking tepat pada jari manis kanan tempat cincin kawin istriku. Setiap keluarga berkeinginan memiliki anak lengkap ada lelaki dan perempuan. Kelahiran Atik amat menggembirakan.
Kurang dari dua tahun, tepat 27 Juni 1980 lahir anak perempuan keempat, Anna Retty Teiseran. Pagi hari istriku merasa saat melahirkan akan tiba, maka kami berjalan dari rumah kontrakan di Penumping di belakang SPBU Perwira Mulia Jalan Slamet Riyadi Solo ke Klinik bersalin milik TNI AD yang berada di seberang SPBU. Karena melihat istriku masih segar saya pamit untuk bekerja di CV Bengawan Motor Slamet Riyadi Solo. Sekitar jam 11 siang saya dikabarin istriku sudah melahirkan. Untuk kedua kalinya kelahiran anak perempuan tidak dapat kudampingi istriku.
Dalam 7 tahun pernikahan, kami dikaruniai 4 anak. Singkat dan cepat. Sehingga ketika anak anak sekolah TK dan SD di Solo, ibu ibu di TK Marsudirini dan SD Pangudi Luhur Solo berkomentar: "Bu Martin seperti lokomotif yang menarik gerbong” Karena istriku menggendong yang bungsu Anna, dan menarik 3 yang lain yang saling berpegang tangan, untuk menyeberangi dari TK Marsudirini ke SD Pangudi Luhur. Setelah anak anak dewasa dan semua bekerja saya minta segera menikah. Maka dalam waktu 2 tahun, 2005 dan 2006, semua anak menikah. Sekarang tugas kami sebagai orang tua sudah selesai.
Inilah kebiasaan Istriku yang luar biasa, yang amat kukagumi dan sering membuat saya terharu. Ia hidup sederhana dan jarang membeli baju baru. Ia sangat gembira ketika mendapat baju dari saudara saudaranya. Memiliki baju yang disimpan sampai puluhan tahun, bahkan sebuah baju merah yang dibelikan adiknya Welly, mungkin sudah 40 tahun. Ketika ia memakai baju ini, terasa kami seperti masih muda kembali. Penuh dengan gelora cinta dan membuat saya memeluknya erat dan lembut.
Ia mengatur keuangan dengan sempurna, sehingga kami punya cukup tabungan dihari tua, walau kami pegawai, yang hanya bisa makan gaji tetapi sampai sekarang kami tidak punya masalah keuangan. Kemampuannya membuat roti, kering meringankan beban keuangan rumah tangga kami. Dari menjual roti selama bertahun tahun dibelikan dollar atau barang mas. Suatu saat saya mau membeli tanah dan dollar miliknya dijual, sungguh nilai yang sangat berarti. Ketika anak anak menikah, menantu perempuan dan anak perempuannya mendapat pembagian gelang berlian, gelang emas yang cukup berat dan berbagai perhiasan emas. “Anak anakku, ketika memakai perhiasan pemberian mama, ketahuilah mama membeli dengan uang hasil jual roti. Mama pernah berangkat jam 05:00 pagi dari Semarang ke Jogjakarta dan pulang sorenya dan, hanya sendirian menyetir mobil untuk menjual roti. Mama adalah seorang mama yang perkasa, jangan menyakiti hatinya”
Suatu hari di Juni 1979, saya sakit dan perlu opname di rumah sakit umum Mangkubumi Solo. Di rumah anak kedua Donny demam panas tinggi, juga adiknya Atik sampai perlu masuk rumah sakit Panti Waluyo Solo dan mendapat infus di kepala karena masih bayi. . Berawal tengah malam bersama Lorry istriku mencoba mencoba menghubungi dokter Syarif Abdullah dokter keluarga kami. Pintu gerbang di ketok tetapi pintu tidak dibuka. Karena panik istriku melompati pagar dan mengetuk pintu rumah, Cerita ini membuat saya amat kagum akan kekuatan perempuan khususnya seorang ibu. Dalam keadaan mendesak mereka memiliki karunia khusus dari Tuhan untuk melindungi keluarganya.
Ia sehat sekali dan kuat, walau dua tangannya kecil. Ketika saya mengukur pergelangan tangannya, hanya sebesar lingkarang ibu jari dan jari telunjuk serta berat badanya tidak pernah sampai 50 kg, kecuali ketika hamil. Ia sangat memperhatikan kondisi tubuhnya. Sehabis melahirkan, maka saya mesti menggunakan selendang panjang 4 m, untuk dililitkan pada perutnya. Supaya kencang saya menggunakan kaki menekan ke pinggangnya dan menarik dengan dua tanganku.
Kalau ia mencuci sprei yang besar, hatiku menangis melihat ia berusaha mengeringkan dengan tangannya yang kecil. Saya memang membantu, tetapi seringkali ia mengerjakan ketika saya sudah di kantor.
Bumbu Cinta
Sesibuk apapun, istriku selalu bangun pagi dan menyiapkan makan pagi dan makanan yang akan saya bawa ke kantor. Saya jarang makan di luar. Karena saya selalu makan makanan dari masakan istriku. Memakan masakan isteriku adalah ungkapan cinta dan memenuhi janji perkawinan kami di depan Tuhan selalu bersama dalam untung dan malang. Karena setiap masakannya yang ia siapkan pasti menyertakan bumbu cinta,
Saya bangga sekali, karena baju kantorku yang berwarna putih selalu berwarna putih dan bersih, walau sudah lama sampai kerah baju sobek dan berbulu. Bahkan jubah prodiakon aku sudah lebih dari 15 tahun sekarang masih ada dan tetap putih. Saya gunakan sejak menjadi prodiakon di Katedral Semarang sampai periode 2015 sampai 2018 di gereja Katolik Krapyak Semarang.
Dengan tangannya yang kecil itu saya dan anak anak terawat, segala sesuatu menjadi bersih dan rapi. Di saat saya bertugas di luar kota, semua kebutuhanku disiapkan dengan baik. Pasti tidak ada yang ketinggalan. Perlengkapan seperti sabun, odol, sisir yah tidak pernah ada yang tertinggal. Sekali waktu saya ditinggal sendiri karena ia mendampingi putrinya melahirkan di Kefamenanu Timor, saya menjadi repot. Pernah sudah menyiapkan makanan untuk dibawa ke kantor, tidak terduga ketika mau makan tidak ada sendok. Hal ini tidak pernah terjadi kalau isteriku ada di sampingku.
Saya bangga sekali, istriku sebagai seorang Phlegmatis Damai bisa cocok dengan siapa saja. Polos dan rendah hati, ia melayani tanpa pamrih. Anak anak sampai mengatakan "mama ini maunya membuat semua orang senang". Ketika ia mau ke Timor mendampingi anak no 3 yang sedang hamil ia mengatakan, siapa yang mengurus saya? Ah ah istriku memang istimewa dan tidak ada duanya. Kalau jalan pagi, bila melihat ada tetangga yang sedang menyapu ia memperlambat langkahnya dan menyapa, bila tidak ia memandang lama ke arah teman itu sambil menunggu dan menyapa. Ia sepertinya tidak mau melewati menyapa siapapun yang ia lihat, seperti semut yang saling “cium” ketika berpapasan.
Kebiasaan membukakan pintu gerbang ketika saya pulang dari kantor telah dilakukan puluhan tahun. Maka dari mobil kupandangi tubuhnya yang kecil mungil itu sedang mendorong pintu pagar. Dalam hati kukatakan betapa perkasanya istriku ini. Kalau malam tidur, saya sering menggenggam tangannya. Kurasakan tangannya, kuelus dan merasakan kasarnya telapak tangannya. Tangan yang sudah 48 (2021) tahun merawat diriku dan keempat anak serta sekarang ada 8 cucu. Semua cucu bersyukur, karena sebelum popo mereka sakit akibat stroke di Amerika mereka semua mengalami gendongan pertama dari popo yang mereka kasihi ini. Saya suka mengeluh karena melihatnya ia bekerja tidak henti hentinya, tetapi ia tidak menunjukan perasaan lelah, yang ditampakkan hanyalah senyuman semata.
Tahun 1996, jam 03:30 saya berangkat untuk kerja dari Yogyakarta menuju Semarang; mengalami kecelakaan, menabrak tiang listrik sebelah kiri jembatan Salam dari arah Yogyakarta ke Semarang. Saya mengerem mobil secara tiba- tiba karena nyaris menabrak seekor kucing. Mobil berputar 440 derajat, untung ada tiang listrik tersebut, kalau tidak saya pasti terjun ke arah masjid. Saya shock berat, tidak mau ke Semarang lagi. Tetapi istriku membujuk, agar segera ke Semarang. Ia menjadi pendorong, agar saya tidak “lograh” menyerah bila menghadapi kesulitan.
Ketika tengah malam dan saya terbangun, kulihat ia sedang berdoa. Entah sudah berapa kali berdoa Rosario dalam sehari. Kutahu ia mendoakan kami, saya dan anak anaknya. Agar kami sehat. Keintiman relasi dengan Tuhan itu, ia melanjutkan hingga menderita sakit di USA. Ia membawa serta buku kecil doa koronka yang saya gunakan ketika kekasih sakit di USA.
Saya mengikuti KEP, Kursus Evangelist Pribadi untuk menemaninya saja, karena harus pulang hingga lewat jam 9 malam. Namun akhirnya saya harus berterima kasih kepadanya karena ternyata kursus itu menyenangkan dan saya bisa selesai tanpa absen seharipun. Setelah KEP, ia melanjutkan ke SEP Sekolah Evangelist Pribadi. Semangatnya luar biasa, beberapa kali saya mengeluh karena ketika saya pulang dari kerja ia sudah tidak ada di rumah.
Sekali lagi harus ku sampaikan terima kasih kepada istriku, karena ia membuat catatan di Kitab Suci selama kursus. Maka saya bisa menggunakan sebagai pengingat ketika membaca Kitab Suci. Sekarang ia mengalami kesulitan untuk membaca karena stroke, bagian otak dan saraf berfungsi mengolah bahasa mengalami kelemahan. Sekarang setiap hari ia belajar membaca dan menulis seperti anak TK. Kemampuan untuk mengingat sangat lemah, walau berulang ulang kali, tetap saja ada yang dilupakan. Setiap kali belajar, saya mendampingi. Saya membuatkan tulisan yang kemudian dibacanya dan menulis ulang.
Kuusahakan selalu berada didekatnya, karena tidak tega membiarkan ia belajar sendiri. Kesetiaanku saat ini tidaklah seimbang dengan yang ia sudah berikan. Selama 36 tahun saya bekerja di Nasmoco Group, kami mengalami perpindahan tempat tinggal sebanyak 9 kali. Kemana saya pindah kantor, ia selalu menyatakan kesiapannya untuk ikut pindah. Isteriku bukan seorang berpendidikan tinggi, ia hanya tamatan SMEA, tetapi ia membimbing anak anak kami mandiri dan berumah tangga. Kehadirannya selalu memberikan rasa damai bagi keluarga dan sekitarnya.
Terima kasih kepada teman-taman medsos multiplay.com, yang dulu sering memberikan tanggapan pada kolom Multiply. Sayangnya banyak tanggapan hilang ketika multiplay.com di tutup.
Beberapa komentar:
Yolinda Lay: “Menyentuh sekali membaca kisah Cong dan Ci Min, mudah-mudahan kami bisa mengikuti dan meniru teladannya. Salam untuk Ci min. Tuhan memberkati”.
Agus Setianto: “ko Martin... saya belajar banyak tentang hubungan suami istri, saya juga belajar mengasihi istri tercinta...... saya senang membaca ungkapan kasih ko Martin buat ci Min... i'm really touch as lin2 said..... saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah sharing”
Rachman Djamal: “Selamat atas kebahagiaan anda, semoga Tuhan selalu memberkati”
Anita Riyanto: “Very inspiring om..ditambah pengalaman dari om Agus juga, biar jadi pelajaran buat kami para pasangan muda. very5x like it!!!”
Lulu Sitepu: “So sweet...ternyata hal-hal kecil bisa jadi begitu indah dan berarti takala dilakukan dengan cinta..semoga bahagia selamanya..doakan saya dan suami bisa lebih saling mencinta seperti pak Martin dan ibu.. God bless u”
Atik Yustikarini: “ Hu...hu, pengen nangis.....pak Martin, mengingat jarang sekali saya masak untuk suami,,,,,”
Tak Punya Nama Lagi: “ Betapa bahagia hidup Anda. Sekarang pasangan masih hidup sudah sedemikian kesannya. Nanti kalau harus berpisah (seperti saya yang isteri tercinta sudah tiada), kenangan dan pujian itu akan lebih besar lagi. Maaf, bukan maksudnya agar segera berpisah dan siapa yang duluan (kita tak bisa berandai-andai). Hanya share tentang diriku sendiri. Saya berdoa semoga Pak Martin sekeluarga senantiasa bahagia”
Yanuar Nugroho: “Pak Martin termasuk membela hak wanita. Salut”
Mgr Johanes Pujosumarta: “Pak Tarsisius pengagum wanita ya”
SantiagoGo: “ Belajar untuk mengasihi dimulai dari hal-hal yang kecil...terima kasih atas pelajaran hidupnya pak Martin....kami yang muda-muda harus banyak belajar....”
Hari ini 8 tahun lalu (2021), 12 Nopember 2013 di Fullerton LA California, ketika istriku mengalami stroke, pendarahan hebat pada otaknya, duniaku terasa gelap. Harapan hidupnya dikatakan dokter hanya 50% Kalaupun selamat ia akan cacat seumur hidup. Tidak bisa bicara, tidak bisa melihat dan lumpuh total.
Namun mujizat terjadi, berkat doa semua teman, saudara, bahkan dari saudara yang tidak kami kenal dan, isteriku sekarang pulih. Kekasihku bisa jalan, bicara bicara, melakukan semua pekerjaan rumah. Benar sekali ungkapan saudara “Tak Punya Nama Lagi”. Bagiku, kekasihku telah meninggal dunia, tetapi Tuhan membuat ia hidup lagi. Ia sudah hilang dan ditemukan kembali. Maha Besar Tuhanku.
Kunyanyikan Mazmur 71. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.
Komentar