Langsung ke konten utama

Om Loen telah meninggal dunia

Bapak Yosef Tirto (Om Loen) telah meninggal dunia. Hari Senin jam 01:00 dini hari. Bapak berusia 87 tahun ini menjadi orang tertua yang meninggal dunia di lingkungan Pekunden. Tanggal 13 Januari saya terakhir mengantarkan Sakramen Mahakudus (SMK) ia terbaring lemah di tempat tidur dan disampingnya ada sebotor oksigen, namun waktu itu tidak digunakan karena Om Loen nampaknya cukup sehat. Minggu satu hari sebelum meninggal dunia teman prodiakon mengantarkan SMK kepada om Loen.

Sudah beberapa kali saya mengantarkan SMK, beliau baru dibaptis belum setahun. Setengah tahun lalu ia mengalami serangan jantung ketika sang isteri tercinta sedang dibaringkan di rumah jenazah saat itulah menerima sakramen permandian. Lama saya menyenal orang tua ini, beberapa sebelum isterinya meninggal dunia ia masih aktif jalan pagi, nyaris setiap pagi ia berjalan pagi dari Pekunden, Simpang 5 sampai Polda dan kemudian pulang lewat pemakaman Bergota Semarang. Kebiasaan itu membuat beliau sehat, sehingga bisam mewarat isterinya yang juga sudah lanjut usia yang sudah menurunan pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Setiap minggu ketika saya mengantarkan SMK kepada Bu Tirto (tante Cing), beliau selalu setia duduk disamping isterinya dan ikut menyaksikan penerimaaan SMK.

Meninggalnya isteri tercinta, fisiknya merosot drastis. Ia tak dapat berjalan sekalipun hanya didalam rumah. Semua waktunya dihabiskan diatas tempat tidurnya. Nampaknya beliau sudah sadar benar bahwa saat kembali ke rumah Bapa akan segera tiba. Anak tertuanya, bekerja di luar kota, sehingga tidak dapat setiap saat berada disampingnya. Minggu lalu, ia pulang dan menyaksikan ayahnya kelihatannya sehat. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, karena ketika sedang duduk disamping orang tua ini, ia dibisikin ada satu hal yang mau ia sampaikan. Hanya sampai di situ, apa isi hatinya tak pernah terucapkan. Di bujuk dengan berbagai cara ia hanya diam saja. Mungkin beliau berharap anak-anaknya mengetahui apa yang endak dikatakan.

Kemarin sore jam 6, bersama romo Herman pr dari Katedral kami dari wilayah Pekunden menghadiri upacara penutupan Peti, semua anaknya sudah ada, hanya beberap cucunya belum tiba dari luar kota. Bacaraan yang diambil dari kisah tentang Ayub: “Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Kematian memang membawa kesedihan, namun kematian juga memberikan pelajaran beharga bagi kita yang ditinggalkan. Dari orang tua ini, saya mengambil pelajran tentang konsistensi, rajin berjalan pagi sampai usia 85 tahun. Ia sehat, meninggal seperti mobil yang kebahisan bahan bakar. Selamat jalan Om Loen, pak Yosef, kembali ke rumah Bapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trinale 2007, bersama romo romo KAS

Perlu Paradigma Baru dalam Merawat Tubuh Sebagai Bait Allah

 Dulu untuk warna ungu saya makan kol ungu, tetapi ganti bit karena perut kembung  Bila yang membuat disertai rasa cinta, maka badan jiwa menjadi sehat.  Dua pastor dari Flores dan Timor saya ajak makan sayur mentah, katanya "enak" karena buktinya lihat wadah sayurku. Pagi ini dr Andry Hartono, seorang yang aktif sharing berbagai pendapat di milis KAS.  Terima kasih dr Andry Hartono. Artikel ini mendukung aliran makan sayur mentah, yang banyak dilakukan banyak pihak. Khususnya bagi saya, karena kebiasaan makan sayur mentah telah merubah teori-teori sebelumnya yang menyebutkan, sekali makan obat tekanan darah tinggi seumur hidup tergantung padanya.  Kenyataan pada diriku, setelah memasuki tahun ke 3 makan sayur Panca Warna, saya berhenti makan Norvas. Kalau dulu, lama duduk akan menyebabkan kaki bengkak, sekarang hilang sama sekali. DUlu makan sayur diare, sekarang sebaiknya. Hematku, makan sayur mentah membuat/memulihkan aliran darah y...

Pengabdian Seorang Koster

“Suatu saat saya minta tolong pak Haryono agar buatkan beberapa rosario . Setelah selesai, ia menyerahkan kepada saya sambil mengatakan maaf romo Bi, mungkin rosarionya kurang rapih. Waktu saya tanya biayanya berapa ia menjawab 'sembah bekti mawon romo” ungkap romo H Subiyanto. DW. Pr pada saat merayakan Ekaristi Kudus bulanan untuk karyawan Katedral. Bertepatan pula, hari itu Bapak Rafael Haryono pension sebagai koster Katedral KA Semarang. Hal yang sama juga pernah dialami romo Sukardi pr, romo Paroki Randusari Semarang. Ia hanya minta dibayar dengan doa saja” demkian rama Soebiyanto mengawali khotbahnya. Rafael Haryono lahir di Sendangsono, 21 Pebruari 1947 dari keluarga sederhana. Ia semula dibawa oleh romo G Natabudyo pr ke Semarang . Mulai bekerja sebagai pegawai di pasturan pada 30 Desember 1969 dan, baru 2 tahun kemudian ditunjuk menggantikan koster lama yang mengundurkan diri. Suami dari Katarina Nurpini Dwiprihatin mengalami pergantian banyak r...