Kamis, 10 September 2009

Pengabdian Seorang Koster

“Suatu saat saya minta tolong pak Haryono agar buatkan beberapa rosario. Setelah selesai, ia menyerahkan kepada saya sambil mengatakan maaf romo Bi, mungkin rosarionya kurang rapih. Waktu saya tanya biayanya berapa ia menjawab 'sembah bekti mawon romo” ungkap romo H Subiyanto. DW. Pr pada saat merayakan Ekaristi Kudus bulanan untuk karyawan Katedral. Bertepatan pula, hari itu Bapak Rafael Haryono pension sebagai koster Katedral KA Semarang. Hal yang sama juga pernah dialami romo Sukardi pr, romo Paroki Randusari Semarang. Ia hanya minta dibayar dengan doa saja” demkian rama Soebiyanto mengawali khotbahnya.

Rafael Haryono lahir di Sendangsono, 21 Pebruari 1947 dari keluarga sederhana. Ia semula dibawa oleh romo G Natabudyo pr ke Semarang. Mulai bekerja sebagai pegawai di pasturan pada 30 Desember 1969 dan, baru 2 tahun kemudian ditunjuk menggantikan koster lama yang mengundurkan diri.

Suami dari Katarina Nurpini Dwiprihatin mengalami pergantian banyak romo selama ia menjadi koster, dan menurut Haryono setiap romo memiliki pembawaan masing-masing. Romo Natabudyo pr, romo Patmosepoera pr juga bapak Uskup romo Kardinal Darmojuwono menjadi rama-rama yang mengukir pengalaman pertamanya di Pastoran Katedral. Kehidupannya di sekitar romo-romo membuat ia menilai: ”Romo itu wakil Tuhan di dunia, maka kita harus menghormati beliau-beliau”. Demikian hormatnya ia kepada para romo, maka ketika menyebut romo yang sudah meninggal dunia didepan namanya ia selalu menggunakan kata swargi.

“Pengalaman saya paling membekas ketika bersama swargi romo Wiryo sebab beliaulah yang menunjuk saya untuk menggantikan koster lama sdr Naryanto” Sebagai koster Haryono sangat menjenangi pekerjaannya. Setiap hari ia sudah hadir di gereja pagi jam 04: 30, untuk membukakan pintu, membunyikan lonceng dan mempersiapkan perayaan ekaristi pada jam 05:30. Bila tidak ada aktifitas lain seperti pemberkatan pernikahan atau kegiatan- kegiatan umat seperti persekutuan doa dan sebagainya maka jam dua siang ia sudah bisa pulang untuk istirahat.

Akhir- akhir ini aktifitas doa di Katedral meningkat, seperti adorasi untuk menghormati Sakramen Maha Kudus, yang diselenggarakan setiap bulan pada Jumat pertama dan berlangsung sepanjang hari. Seperti itu maka ia menunggui sampai acara itu selesai. “Kalau Katedral tidak dipakai maka biasanya saya juga ikut membersihkan gereja, atau pekerjaan apa saja yang diminta romo atau anggota dewan paroki. Bagi saya, semua permintaan untuk melakukan pekerjaan apa saja, saya jawab inggih. Saya dipanggil untuk bekerja di rumah Tuhan maka saya tidak mau mengecewakan romo atau anggota dewan. Dengan modal itu saya bisa bekerja sampai usiaku mencapai 60 tahun”

Bagi Haryono bekerja di rumah Tuhan yang suci dan pandangannya bahwa Romo adalah wakil Tuhan membuat ia bekerja dengan senang, sekuat tenaga, disiplin dan menomer satukan bekerja di rumah Tuhan. Pandangannya tentang hidupm ini sederhana saja: “Saya percaya kalau kerja dengan tekun pasti Tuhan memberi berkah dan kesehatan kepada saya dan keluarga. Sebagai koster, seluruh waktu kerja saya di rumah Tuhan. Saya menerima uang pensiun Rp 350.000 dan tambah kontrak Rp. 520.000 dua tahun terakhir. Memang untuk ukuran orang lain uang sejumlah itu sedikit namun bagi saya, sudah cukup. Saya percaya kepada Tuhan, adining sing kuasa, sithik cukup akeh kurang. Sedikitpun saya cukup-cukupkan, nanti kalau banyak malah bingung. Banyak kurang sedikitpun cukup. Tuhan memberikan upah yang cukup kepada yang bekerja di ladang Tuhan” Sebagai manusia ia terkadang juga merasakan beratnya

mengelola keuangan itu, khususnya bila anak-anak minta biaya untuk melanjutkan sekolah atau bersamaan harus bayar uang sekolah. “Anak- anak sudah saya didik untuk mandiri, mereka membuat rosario, jual barang bekas sampai menjual koran di persimpangan jalan untuk biaya kuliah atau untuk bayar kos. Pernah suatu kali anak saya Tony minta uang untuk bayar sekolah, pada hal saya tidak punya uang. Berkat Tuhan, ternyata bersamaan dengan itu ada pesta perpisahan sekolah di gedung Sukasari dimana ada banyak gardus bekas tempat makanan. Yo nak yo nduk, kita kumpul kardus bekas. Mas Tony arep bayar sekolah, ayo yo ngumpulke kardus bekas kangge bayar sekolah ee akirnya dengan menjual gardus bekas itu kami bisa melunasi uang sekolah mas Tony” demikian ia menanggapi situasi sulit dengan entengnya.

Haryono memiliki 5 orang anak, tiga laki dan dua orang perempuan. Untuk ukuran keluarga mapanpun, saat ini bukan pekerjaan gampang untuk mengatur keuangan keluarga. Biaya besar untuk hidup maupun pendidikan anak membuat banyak keluarga kawatir. Suatu saat ia sangat membutuhkan uang karena anaknya sudah mendaftarkan namanya untuk kuliah di AKIN, pada hal ia tidak memiliki uang sebanyak yang diminta. Dalam keadaan bingung ia mencoba mendatangi alm romo Wiryo, namun ia mendapat jawaban bahwa mengutang pada romo tidak boleh:”swargi romo Wiryo mengatakan, pak Har, nyuwun sewu, kene ini ora ono utang-utangan. Mangkeh utang ora nyambut gawe malah mikirke utang. Saya jawab, inggeh romo kulo nyuwun berkah pangestunipun mawon romo. Mugi-mugi mawon kulo saget pikantuk arta saking sanesnipun. Dalem nyuwun berkat pangestunipun mawom romo. Hati saya menangis ketika pulang ke rumah tidak membawa uang. Lha piye nang wes tak golek utangan ora entuk jawab saya. Dalam situasi yang mendesak dan bingung, saya mengambil jalan pintas. Saya bingung bagaimana caranya supaya anak saya bisa melanjutkan sekolah. Sebagai orang tua saya harus bertanggung jawab. Maka terjadilah, apa yang selama ini saya jaga, saya langgar prinsip hidup saya, yaitu berjudi dengan membeli SDSB. Waktu itu rasanya sakit sekali, saya sampai menangis karena saya melanggar prinsip saya. Uang Rp 1.000. yang ada saku saya beli kupon putih. Mungkin sudah berkah bagi anakku, ternyata saya tembus 4 angka dan mendapatkan Rp 2 juta”

Sampai disini Pak Haryono menitikkan air matanya, beberapa saat beliau tidak mengucapkan kata-kata. Beban berat sebagai seorang ayah, terharu akan pertolongan yang datang, dan panggilan sebagai pekerja di ladang Tuhan, semuanya menyatu bergejolak dalam dirinya. Ternyata Tuhan maha pengasih, memberi dengan cara Nya sendiri.

Antonius Aris Nugroho anak pertama, tamatan kimia. Ia rajin berdoa Novena di gua Kerep Ambarawa, dan pada suatu saat ia melihat banyak sisa lilin, ia minta kepada koster agar bisa mengumpulkan sisa-sisa lilin itu. Lewat proses daur ulang pakai kapur Padalarang, lilin itu menjadi putih kembali, kemudian dicetak pakai gelas dan dijual kembali ke tempat doa, seperti gua Kerep. “Pernah dikirimi 1 ton lebih hasil pengumpulan oleh koster, ya anak saya membayar. Puji Tuhan lilinnya laris sekali, bahkan pernah jam 11 malam lilinnya habis, saya antar pakai motor ke Ambarawa. Saya percaya Tuhan akan memberi upah, karena saya bekerja di ladang Tuhan. Sesudah selesai AKIN anak saya kerja di Pabrik kertas di Sidoardjo sambil melanjutkan kuliah di ITAT, saya bersyukur Tuhan demikian murah hati kepada keluarga saya” pengakuannya.

Anak nomer dua Benetictus Bimo Pitertika lulusan UNS Solo sudah bekerja di Semarang. Nomer tiga Cisilia Siska Pungkisari, selesai pendidikan lalu nikah dan ikut suaminya yang bekerja di PLTU Paiton. Laki nomer empat Eduard Rudy Irwantono, Ekonomi Sugiyopranoto dan perempuan Eralia Estinikan Pertiwi lulusan akuntansi juga sudah bekerja.

Pada waktu pengangguran terjadi dimana-mana, kelima anak Haryono malah sudah bekerja semua. Ia mengakui tidak berani minta bantuan kepada umat agar anak-anaknya diberi pekerjaan. Anak-anaknya mencari sendiri pekerjaan lewat iklan dan buku telepon. “Saya tidak berani minta tolong ke umat, takut nanti kalau anak saya tidak bekerja sesuai harapan orang, malah merepotkan. Kini saya sudah dikaruniai 4 cucu, salah seorangnya sudah kelas 6 SD. Sekarang saya mau menikmati pensiun sambil meneruskan membuat rosario” ujar Haryono.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” Mateus 6:33. Ia menyinggung Injil Mateus ketika ditanya soal pekerjaan sebagai koster. Lebih dari tiga puluh delapan tahun ia bekerja di sekitas Katedral, maka devosinya juga luar biasa. “Saya selalu berdoa, ketika membersihkan Tabernakel. Dengan kain lap yang sudah saya kasi braso, tangan saya menyentuh, berdoa dengan keharuan dan rasa syukur. Tuhan Yesus, bantulah saya dan jaga kesehatan kelurga saya. Saya hanya membersihkan luarnya saja, tidak boleh bagian dalam tabernakel yang sakral. Pekerjaan Itu hanya boleh oleh romo, rohaniwan maupun prodiakon yang mendapat surat pengangkatan dari Bapak Uskup. Saya percaya Peryaan Ekaristi itu mujizat Tuhan, karena roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus” Maka ketika konsekrasi tiba, ia berlutut dengan tangan terkatup di dada, menyembah Tuhan Yesus.

Ketika saya sedang mewawancarai Bapak Haryono jam menunjukan jam 12 siang, kami berada di balkon koor (dulu). Ia beranjak untuk membunyikan lonceng angelus. Saya melihat ia menarik, tetap bertenaga sepertimketika muda dahulu, membayangkan selama 38 tahun ia setia membunyikan lonceng ini. Menarik lonceng ini pulalah yang pernah membuat di terjatuh dari ketinggian sehingga kepalanya jedera.

Suami dari Katarina Nurpini Dwiprihatin (menikah pada 12 Desember 1972, dan tinggal di Dorowati Dalam No 8 Semarang) memiliki berbagai kenangan selama bertugas sebagai koster. Kenangan yang paling mengesankan adalah mengurus pengeras suara Karedral. “Suatu saat Swargi romo Wiryo sambil membayar gaji mengatakan, pak Har mik e bengung, tak potong lima ribu, inggih monggo romo jawab saya. Pernah tahun 1982 karena kena petir, mixer pengeras suara terbakar, swargi romo Djaja Siswaya minta saya mengganti, inggih kulo derek romo jawab saya. Biayanya habis Rp 44 ribu, saya tanggung setengahnya, jadi sisanya Rp 3000, yang saya bawa pulang ke rumah”. Tidak sedikitpun tampak ia mengeluh. Sampai saat sebelum pensiun, ia merangkap sebagai koster dan operator pengeras suara. Sepanjang ada misa khususnya pada hari Minggu dan hari raya.

Rafael Haryono, sungguh menyadari kesejatian hidup sebagai pekerja di ladang Tuhan. Ia percaya bahwa sikap romo (wakil Tuhan) kepadanya merupakan kebenaran yang diterima dengan tulus dan rendah hati. Demikianlah ketika ia hendak menikah. “Swargi romo Padmoseputra pr, baru mengijinkan saya pulang jam 12 siang, padahal ijab saya jam 16:00. Ada umat yang mau ijab di Gereja. Lain kali pernah jari tangan kanan saya kejepit pintu gerbang gereja. Pintu tertutup karena ada hujan angin kencang. Selama 30 menit saya tidak bisa melepaskan jari dari jepitan tersebut. Untung datang pak lurah dari Sampangan, ia mencongkel pakai drai baru jari tangan saya lepas. Kejadian demi kejadian yang saya alami membuat saya semakin percaya kepada Tuhan, bahwa Ia selalu melindungi saya, karena saya bekerja di ladangNya”

Tiga puluh delapan tahun ia berada di lingkungan Gereja, khususnya dekat tabernakel. Ia sering berdoa sambil membersihkan tabernakel: “Tuhan terima kasih karena saya mendapat kesempatan untuk bekerja di rumah Tuhan ini. Berkatilah keluarga saya, berilah kami kesehatan Tuhan karena Engkau sumber penyembuhan. Tuhan sejak awal sampai akhir saya bekerja disini. Tuhan, saya berdoa juga untuk semua umat yang sudah berbuat baik kepada keluarga saya, semoga Tuhan memberikan berkat yang berlimpah kepada mereka” akhir wawancara. (Martin T. Teiseran- prodiakon Gereja Randusari Semarang).

Kamis, 27 Maret 2008

St. Tarsisius

Tubuhnya Diserahkan sebagai Ganti Tubuh Kristus
Pernahkah kamu berangan-angan melakukan sesuatu yang gagah perkasa? Jika pernah, ini dia santo yang tepat bagimu, seorang remaja yang gagah berani hingga rela menanggung resiko kehilangan nyawanya sendiri guna memberikan Yesus kepada umat Kristiani lainnya.
Semua jemaat Gereja Perdana menerima Komuni Kudus setiap hari, dan jika mereka tidak dapat menerimanya bersama-sama dengan jemaat yang lain, maka Hosti akan diantarkan bagi mereka.
St. Tarsisius adalah seorang Putera Altar yang tinggal di Roma. Ketika sedang mengantar Hosti Kudus, St. Tarsisius diserang oleh segerombolan berandal kafir. Ia tidak rela membiarkan Hosti Kudus dipermainkan dan dimusnahkan oleh para berandal itu, oleh karenanya ia berkelahi dengan mereka. Gerombolan itu merajamnya sampai mati. Demikianlah St. Tarsisius wafat sebagai martir pada pertengahan abad ketiga. Ia dimakamkan dalam Katakomba Paus St. Kalistus yang terletak di Appian Way.

St. Tarsisius juga dianggap sebagai Diakon karena tugas Diakon-lah membagikan Komuni pada kesempatan-kesempatan khusus serta mengantar Hosti dari gereja ke gereja.

Baik sekali jika para remaja mohon bantuan doa St. Tarsisius, sebab ia adalah santo pelindung remaja. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 Agustus.


"St. Tarsisius doakanlah kami agar senantiasa berdiri tegak mempertahankan iman kami."

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Minggu, 02 Maret 2008

Tuhan Yesus Mengunjungi Ibu Ibu

Minggu tanggal 2 Maret 2008, giliran saya mengantarkan Sakramen Maha Kudus (SMK) kepada para orang tua di Pekunden, semuanya ibu-ibu yang usianya diatas 80 tahunan. Minggu ini saya mengikuti misa jam 05:30 agar setelah itu bisa mengantarkan SMK yang biasanya dimulai pada jam 07:00.

Pertama kali saya dan isteri mendatangi ibu Mulya. Paling pagi, karena beliaulah yang sudah siap sambil menunggu di kursi rodanya. Sudah lebih dari 10 tahun ia menjalani hidup ini. Akhir- akhir ini pendengarannya sangat menurun, demikian pula dengan matanya. Dengan senyumnya yang khas, ia menyambut kedatangan kami yang membawa tubuh Kristus. Doa dan sedikit mengutip bacaan hari ini, beliau menerima SMK. Setiap menerima SMK dari tangan saya, beliau selalu mengatakan:”Terima kasih Yesus atas kedatangMu”

Kemudian kami melanjutkan ke ibu Anik, ia baru saja terjatuh sehingga tidak bisa ke Gereja. Walupun matanya tidak bisa melihat dengan jelas dan pendengarannya sudah sangat merosot ia masih rajin ke geraja. Begitu mengetahui kami datang mengantar SMK, beliau berulang kali menyampaikan terima kasih. Ia hanya duduk saja, berdoa dan kemudian menyambut tubuh Kristus.

Dari bu Anik, kami melanjutkan ke bu Lena, umat di Pekunden memanggilnya tante Lena. Bu Lena ini luar biasa bersemangat. Begitu selesai berjabatan tangan, beliau langsung menyanyikan lagu Elsada........ lagu itu indah sekali. Saya sendiri suka bernyanyi maka sayapun bernyanyi sekuat kuatnya. Ketika suara saja keras, beliau juga keras sepertinya tidak mau kalah. Sayapun lalu mengikuti iramanya saja. Saya tahu beliau sudah sepuh dan sudah memiliki kebiasaan beribadah seperti itu selama puluhan tahun.

Ketika saya mau mengutip bacaan minggu ini, beliau sudah siap dengan injil hari ini dari buku renungan harian yang ia baca setiap hari. Dengan lancar beliau membaca sampai selesai. Lalu saya jelaskan isi bacaan hari ini. Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang matanya buta, kemidian orang itu percaya kepada Yesus kemudian menyembah Tuhan Yesus. Berbahagialah kita yang tidak melihat tetapi percaya dan menyembah Tuhan Yesus. Kendati usianya sudah delapan puluhan, bu Lena sangat bersemangat dan sudah siap menerima SMK setiap minggu, beliau sudah tidak bisa jalan sendiri lagi

Dari Bu Lena, kami mengantar SMK ke Sam. Ibu ini juga sangat lemah. Ketika kami datang beliau sudah bersiap di ruang keluarga. Saya mendekati dan menggandeng beliau untuk berdiri dan berjalan ke tempat yang sudah disiapkan. Beliau mengucapkan doa tobat, dan menyanyi dengan baik karena pendengarannya masih normal, kendati fisiknya sudah sangat lemah. Setelah menyambut tubuh Kristus, beliau menyanyikan lagu. Tuhan Yesus sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami, dari sakit sembuhkanlah kami Tuhan Yesus. Pernah ia mengatakan "Aku semakin kurus, berat badanku turun" tetapi ibu ibu lain menegaskan itu yang baik. Karena persendian mereka sudah tua.

Berikutnya ibu Lish sudah beberapa lama menderita sakit reuhmatik sehingga persendiannya sangat sakit. Dulu kalau beliau masih bisa sedikit melangkah, maka beliau pergi ke rumah bu Sam untuk sama sama menerima SMK. Kalau udara dingin akan membuat beliau sangat menderita. Ibu ini biasanya kalau menerima SMK di temani oleh anaknya.

Seorang lagi bu Bertha, beliau dulunya guru, kini di usianya diatas delapan puluh tahun, beliau sudah pikun. Kendati demikian beliau masih mengenal kami yang mengantar SMK. Tidak banyak upacara dengan ibu ini. Saya berdiri didekatnya dan bicara persis di telinganya. Ketika mengucapkan doa tobat, bapak kami dan salam Maria, beliau berusaha untuk ikut berdoa. Kalau bernyanyi saya mesti menyentuh lengannya sambil menggerakan tangannya saya. Dengan cari ini kadang bu Bertha masih bisa ikut bernyanyi.

Hari ini terakhir saya mengantarkan SMK ke bu Elly, ibu yang belum lama ditinggal meninggal dunia oleh Pak Jhon, seorang umat yang setia pada tugas di gereja sebagai prodiakon dan kolektan. Bu Elly menginjak usia 82 tahun. Kalau bulan lalu saya mengantarkan SMK beliau masih berbaring diatas tempat tidur karena proses penyembuhan tulang lengan yang patah maka hari ini beliau sudah menunggu di ruang keluarga dengan senyumnya yang manis. Penghilatannya masih baik, sehingga buku misa yang kami bawa bisa ia baca, khususnya doa pembukaan dan doa penutup, sambil sedikit mengutip bacaan hari minggu ini. Ketika sedang berdoa ia mengeluh, lalu saya bertanya, mengapa? ”Saya minggu ini badan terasa meriang” jawabnya.

Yah ibu- ibu ini adalah ibu ibu yang memberikan kehidupan. Lewat mereka terlahirlah anak-anak dan cucu cucdu. Kini ada puluhan cucu cucu yang hari ini tertawa serta hati yang riang gembira. Mata ibu ibu memancarkan kebahagian walau fisik mereka lemah dan terkadang menyakitkan. Mereka tidak mengeluh yang ada hanyalah kami berdoa bersama agar anak dan cucu cucu hidup bahagia dan sehat lewat doa, Salam Maria. Agar Bunda Maria, bunda yang memberikan keteladannya, memangku tubuh Kristus ketika diturunkan dari kayu salib. Merawat Yesus sejak bayi, membesarkan dengan kasih sayang agar mendoakan anak cucu kami. Kiranya di hari tuanya ini, ibu ibu boleh mendapatkan kasih saya dari anak dan cucu cucu, karena anak-anaklah yang paling tahu perasaan para ibu yang sudah tidak bisa berjalan lagi ini. Bukankah anak anaklah yang sudah puluhan tahun mendapatkan kasih dari seorang ibu? Ah betapa bahagianya bila ada keluarga menemani mereka ketika menerima SMK, sering mereka sendirian hanya di tunggui pembantu atau perawat..............

Jumat, 29 Februari 2008

Persaudaraan Bunda Teresa




Di Semarang sudah ada perkumpulan beberapa saudara beragama Katolik, dan menyebut perkumpulan itu sebagai Persaudaraan Bunda Teresa (PBT). Ide berdirinya dicetuskan oleh Romo Subiyanto pr, sebagai roma paroki gereja Randusari, Katedral Keuskupan Agung Semarang dan yang sekarang sedang bertugas 2 tahun di Binjae Medan. Ide semula karena melihat adanya sebuah sekolahan di Ngawen Gunungkidul DIY yang rusak. Maka diundanglah beberapa orang untuk memppersiapan PBT ini. Setiap peserta yang diundang diminta menjawab lewat sepotong kertas, bahwa bersedia datang, tetapi ada juga pilihan mau datang dan memberikan donasi, atau mau memberi donasi saja. Akhirnya sekitar 40 orang bersedia datang ............dengan ketua bapak Agus Susanto.

Dalam perjalanan waktu, uang sudah terkumpul namun aktififas belum juga terjadi. Setiap kali perayaan ekaristi kami memohon adanya karunia untuk meneladani Bunda Tesera. Setelah romo Bi (demikian dipanggil pindah ke Binjae), moderator di teruskan oleh romo Vikjen J Pujasumarta Pr. Pertama kali kelompok ini bertemu beliau lewat sebuah perayaan ekaristi kudus, menyampaikan visi Bunda Tesera. “Bunda Teresa, bukan melakukan yang besar- besar, tetapi lakukan yang kecil dengan cinta yang besar”. Dan yang membuat sebagian anggota stress adalah ketika rama mengatakan bukan mengumpulkan uang untuk membantu orang lain itu yang paling penting, tetapi meneladani Bunda Tesera dengan menyentuh yang menderita itu lebih penting. Inilah ungkapan yang membuat sebagaian anggota lemas..........

Waktu berjalan, ada juga orang yang perlu dibantu. Jauh- jauh hari direncanakan perlu sesuatu yang meneladani Bunda Tesera. Suatu hari Bu Asep dan Pak Johan, 2 anggota PBT ini melaporkan ada seorang ibu lumpuh dan memelihara seorang anak yang cacat, mendiami sebuah rumah yang sungguh reok, seperti kandang ayam, sebagaimana diberitakan Suara Merdeka. Mereka mendatangi dua orang penderita ini, orang orang di lingkungannya sangat mendukung agar PBT meringankan beban, dengan memperbaiki rumah tersebut. Kemungkinan 2 juta saja sudah menjadi lebih layak untuk didiami. Ternyata setelah rencana itu mau di laksanakan, orang tua yang malang itu terlanjur meninggal dunia. ..... mereka berdua merasa sedih sekali.

Selang beberapa bulan ada usulan mengadakan pengobatan gratis di Pamularsih Semarang. Seorang dokter suami isteri bersedia bekerja sosial untuk maksud itu. Seorang mengusaha farmasi menyiapkan obat lengkap. Seorang pengusaha minuman memberikan sejumlah besar minuman susu. Bapak ibu perkumpulan pijat refleksi dan suakrewalan siap bekerja. Pak Johan menjadi penyiar, menyiarkan aktifitas ini kepada masyarakat di sekitar. Ketika acara sedang berjalan, datang seorang anak remaja, demam dan ketika di periksa ia muntah. Dokter mendiaknosi ia DB, spontan pak Agus Susanto (ketua PBT) minta pak Tri dan pak Johan mengantarkan pasien ke RS Tugu Semarang. Ternyata benar, ia mengidap DB, seandainya tertunda beberapa jam saja jiwanya terancam.

Ternyata pasien ini sudah datang ke rumah sakit, tetapi tidak memiliki kartu kaum miskin sehingga di tolak. Sejumlah lebih dari 200 orang hari itu mendapatkan pengobatan gratis dari PBT.

Pada kesempatan lain, dalam sebuah pertemuan ada lagi ide, bu Asep bertemu seorang pengemis di sekitar pasar Bulu Semarang. Ia mengikuti kemana pengemis itu pulang. Ternyata ia pulang ke stasiun KA Tawang Semarang. ........setelah ditanya- tanya ia mengatakan setiap hari ia pulang ke Kudus, sedangkan rumahnya ada di Juwono, yang belum lama ia beli.

Maka disusunlah sebuah rencana agar ibu ini bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Akan mengusahakan agar ibu ini bisa mendapat kartu orang miskin sehingga bisa mendapat pengobatan secara gratis dari pemerintah, rumah sakit pemerintah. Ketika hendak mengurus kartu orang miskin, ternyata ia tak memiliki KTP, padahal persyaratan untuk mendapatkan kartu orang miskin, tetapi juga harus memiliki KK, Kartu Kepala Keluarga mutlak diperlukan.

Mulailah kesulitan demi kesulitan mereka alami. Mendatangi pengurus kelurahan dimana ia tinggal, ia tidak tercatat sebagai penduduk di situ. Ia hanya seorang pengemis. Dengan berbagai cara akhirnya ia memiliki KTP dan KK hanya untuk dirinya sendiri. Iapun diajak mempersiapkan diri untuk berobat. Sebelum ditanya:”Bu mau di obati agar bisa sehat” mau jawabnya.

Untuk masuk membawa ia ke rumah sakit besar seperti Karyadi, bukan hal mudah karena mengambil surat rujukan dari rumah sakit setempat yang lebih rendah. Akhirnya teman kami itu berhasil membawa bu Kasemi ke Semarang.

Sebelumnya Persaudaraan Bunda Teresa sudah memutuskan membiayai sebagian seperti memberikan uang kehidupan bagi yang menunggu. Tetapi sekarang kami gembira karena ibu ini bisa mendapatkan pengobatan gratis.

Dua urusan sudah beres, pertama kartu orang miskin dan ia sudah dibawa ke RS Karyadi. Datang kesulitan lainnya, karena setelah menunggu beberapa hari ia belum mendapatkan kamar. Karena kecapaian iapun suka pergi keluar dari lingkungan RS. Beberapa kali dikunjungi ternytata ibu ini sedang pergi, entahlah, mungkin pergi mengemis atau pulang ke rumahnya. Ketika ditanyakan kepada teman teman di RS, katanya ia pergi ke stasiun Tawang. Pikir bu Asep, ia pulang ke Kudus.

Setelah berusaha dengan berbagai cara akhirnya bu Asep dan pak Johan mendapat kamar di RS Karyadi. Datang lagi kesulitan berikutnya. Ketika dicari ibu ini tidak ada di tempat, ia sudah pergi entah kemana? Kamar yang sudah diinden, sudah lewat satu malam dan suster suster RS marah karena bisa ditegur atasannya. Bu Asep kelabakan mencari, akhirnya diputuskan pergi mencari ke Kudus, namun sebelumnya bu Asep sudah berpesan kepada pak Satpam, agar menahan ibu ini kalau ia datang. Karena menurut pak Satpam, ia suka menunggu dan duduk duduk di pos satpam itu.

”Peburuan” nyaris gagal. Hari sudah malam, mobil sedang menuju Kudus. Rasa kawatir memuncak di dalam hati bu Asep dan pak Johan, dengan perasaan was was mereka mengharapkan bisa menemukan kembali bu Kasemi. Bukankah sudah cukup jauh usaha untuk menyembuhkannya? Menjelang masuk Kudus ada telepon, pak Satpam mengabarkan ”Ibu Kasemi sudah ada di Pos” tolong ditahan dulu pak, pinta bu Asep.

Menjelang jam 12 malam, bu Kasemi dimasukan ke RS, diiringi kemarahan suster-suster RS, karena tidak umum, kamar menunggu pasien seperti ini. Bu Asep akhirnya mengeluarkan kata kunci ”maaf suster, ia orang miskin bukan keluarga kami. Kami hanya ingin membantu agar bisa sembuh”

Setelah masuk RS dan menunggu untuk di operasi, menekukan lagi lambatan, ternyata setelah di test ternyata Hbnya hanya sekitar 6 saja dan ini tidak memungkinkan untuk operasi. Maka pontang pantinglah pak Johan mencari donor. Akhirnya dibutuhkan sampai 8 orang. Tanggal 28 Pebruari 2008, ia bisa mendapatkan pengobatan, dioperasi karena HB sudah lebih dari 10. Ia bergurau dengan yang keponakannya bahwa ia sekarang sehat dan siap untuk dioperasi lehernya. Setelah keponakannya menanda tangani surat persetujuan akhirnya bu Kasemi didorong ke kamar oprasi.

Jam 13:00 saya di telepon bu Asep. Begitu melihat namanya pada mobile phone saya sudah kawatir. Ada berita buruk, dan benar. “Pak, ibu yang kita usahakan di obati sudah meninggal dunia” nada sedih terasa dari ujung telepon sana. Sayapun datang ke RS Karyadi. Saya sempat bersama bu Asep berdoa di depan jenazah. Ia bukan apa apa, hanya seorang manusia ciptaaan Allah. Hendaknya ia pulang dalam damai. Dan memang benar ketika saya menyingkap kain penutup wajahnya ia tampaknya tenang dan damai, pasrah untuk kembali ke haribaan Allah sang pencipta. Di lehernya masih ada darah mengering, tetapi matanya tertutup rapat. Selamat jalan bu Kasemi............

Kendaraan jenazah sudah disiapkan, tinggal menunggu proses administrasinya. Jam 15:00 pak Johan dan pak Tri mengantar perginya seorang pengemis untuk selama lamanya ke Juwono.

29 Pebruari 2008

Injil Markus

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"

12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Minggu, 24 Februari 2008

Doa Setelah Komuni

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang pemuda, apa doanya setelah menerima Sakramen Maha Kudus, ia hanya menjawab dengan senyuman. Sepertinya ia mengharapkan apa sesungguhnya yang saya lakukan setelah menerima sakramen maha kudus (SMK).

Penerimaan SMK merupakan peristiwa yang sangat penting dalam hidupku dan itu terjadi pada tahun 1956. Sejak habis dibatis dengan nama Tarsisius yang sangat merindukan menyambut Tubuh Yesus. Untuk bisa menerima SMK kami menerima pelajaran cukup lama dari Bapak Rafael Parera Almarhum. Ia seorang guru SR kelas 1 dan 2, merangkap guru agama serta juga menenjadi bapak permandian saya.

Ketika itu orang tua kami, papa dan mama belum sebagai pengikut Kristus. Dalam keluarga kami, kami anak-anak semua sudah di babtis lebih dahulu baru kemudian bapak. Mama sendiri sudah lebih dahulu dibabtis sebagai pengikut gereja Protestan. Namun sejak kami anak-anak semuanya menjadi Katolik, mama kemudian menemani kami 10 anaknya dan bapak di Gereja Katolik.

Saya masih ingat ketika kami dipersiapkan untuk menerima SMK. Ada latihan terus menerus dan pelajaran yang lama soal mencintai Yesus serta membangkitkan kerinduan menerima Yesus. Bukankah Ia mau mengorbankan diriNya, mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Oleh karena itu kami mempersiapkan diri dengan mengaku dosa, dan menggunakan pakaian putih. Kami maju dengan sopan dalam barisan dengan tangan terkatup di dada.

Setelah menerima SMK orang tua kami dan sekolah merayakan pesta besar. Banyak anak anak datang dari berbagai desa datang ke Halilulik. Ada yang datang dari Laktutus, Mandeu, Seo dan lain lain. Desa Halilulik lama menjadi pusat gereja Katolik di daratan Timor, terutama waktu penjajahan Belanda. Umat yang mengikuti perayaan ekaristi jumlahnya banyak. Gereja terlalu kecil, sehingga perayaan Ekaristi Kudus dilaksanakan di tengah lapangan sekolah dan yang sekarang menjadi kantor profinsialis suster suster S Sp S. Ketika itu untuk menerikan SMK hanya boleh oleh imam. Waktu itu kalau tidak salah hanya ada 2 imam, maka sekarang saya membayangkan dengan umat berjumlah lebih dari seribu, waktu untuk menyambut tubuh Kristus bisa memakan waktu lebih dari 1 jam.

Saya menerima SMK pertama kali dari Pater Somhorst SDV. Almarhum tadinya adalah pastor tentara pada jaman Belanda. Saya masih ingat, kami diberitahukan bagaimana cara berdoa setelah menerima SMK.

Pertama sebelum menerima SMK, hati kami harus bersih, dari dosa. Umumnya sebagai anak kecil maka dosa kami seperti malas membantah perintah, tidak melakukan pekerjaan rumah. Suka mengomel kalau diminta membantuan oleh orang tua. Atau ketika sedang mengikuti perayaan misa kami bicara tidak berdoa, sehingga Yesus marah kepada kami. Pernyataan tobat menjadi wajib, kalau mau menerima SMK.

Waktu melangkah ke tempat berlutut untuk menerima SMK (ketika itu kami berlutut di meja panjang yang sudah disediakan di depan. Sehingga imam membagikan SMK sambil berjalan). Ada seorang ajuda (misdinar) memegang semacam patena, piringan kecil, diletakan di bawa dagu kami, agar nanti kalau menerima SMK, jangan ada tubuh Kristus yang tercecer. Kami sangat menghormati tubuh Kristus. Saat menerima SMK, mata kami tertutup rapat, tangan terkatup di dada, lidah kami julurkan dan merasakan tubuh Kristus menyentuh lidah.

Dengan tangan terkatup didada, kami berjalan pulang kemudian berlutut dan menutup muka dengan kedua tangan. Doa pertama yang kami ucapakan adalah, selamat datang Tuhan Yesus yang manis dan pengasih, terima kasih karena Engkau mau datang kepadaku. Lindungi aku dari marah bahaya khususnya dari dosa. Sambil bicara dalam hati tubuh Kristus masih terletak di lidahku. Kulanjutkan dengan doa. Malaekat pelindungku terima kasih atas perlindunganmu selama ini, lindungi aku minggu akan datang.

Kemudian berdoa kepada santo Tarsisius, santo pelindungku. Santo Tarsisius, terima kasih atas keteladanmu, mengantar SMK. Aku ingin menjadi ajuda yang rajin, agar selalu dekat dengan Engkau Yesus di altar, dan khususnya ketika Engkau hadir pada waktu konsekrasi. Bantulah aku santo Tarsisius agar kemudian hari aku bisa mengantar tubuh Kristus seperti engkau. Waktu masih kecil aku suka membaca kisah para kudus, suatu saat aku membaca kisah santo Tarsisius, dan sejak saat itulah saya menggunakan nama pelindungku Tarsisius. Dari keteladanan santo Tarsisius, saya menjadi seorang ajuda yang rajin, bahkan sampai saya sekolah STM di Muntilan pada tahun 1964- 1968. Sakristi dan altar menjadi tempat kesukaan dimasa kecil.

Ketika tiba saatnya kami menerima sakramen Krisma (penguatan) semua teman menerima nama Yosef dan Maria dari Bapak Uskup Theudoros van den Tilaar. Ketika sampai pada saya, saya menunjukan selembar kertas bertuliskan Martin de Porres. Maka bapak Uskup menyebut nama Martin de Porres sebagai penguatanku. Saya terkesas dengan kehidupan seorang bruder di kota Lima Peru ini. Ia seorang pekerja keras, rajin, kreatif dan seorang teknik yang rendah hati. Kehidupan rohaninya suci, dan disenangi banyak teman- teman bahkan umat sangat menyenangi Bruder Martin de Porres, ia suka menolong kemana mana dan kepada siapa saja.

Bapak uskuppun lalu menyebut Martin de Porres sambil menepuk pipi saya. Sejak saat itu saya menjadikan beato (waktu itu) Martin de Porres sebagai idolaku dalam bekerja. Aneh, saya memang akhirnya menjadi seorang teknik sampai saat ini, padahal ketika saya memilih nama itu saya baru berada di kelas 5 SR. Maka ketika menerima SMK, saya berdoa kepada santo Martin de Porres, terima kasih atas semua keteladannya, sebagai pekerja teknik.

Dalam kehidupan rohaniku masih seorang santa yang saya sebut dalam doa, setiap menerima SMK. Ia adalah santa Maria Goretty, saya pernah membaca kisah hidupnya ketika SMP di Kefamenanu. Saya terkesan sekali atas kesuciannya. Santa Maria Goretty, karena ia mempertahankan kesucianya sampai mati dibunuh oleh yang pemerkosanya. Maka saya minta pertolongan santa Maria Goretty, agar mendoakan saya sehingga bisa suci seperti dia. Saya bersyukur, doanya itu di kabulkan, karena selama 35 tahun (1973) pernikahan, bersama isteri tercinta saya Chlotilda Then Lie Fong, ia menjadi satu-satunya dalam hidup saya. Tidak ada wanita lain, selain ia. Kesucian dalam pernikahan kami itu memang karena keteladanan dari santa Maria Goretty. Terima kasih...........

Setelah itu saya ingat permintaan para imam yang dulu membimbing dan menyayangi saya. Mereka minta supaya saya mendoakan mereka ketika menerima SMK. Sampai sekarang saya selalu melakukan, agar jiwa mereka istirahat dengan tenang di rumah Bapa, dan mendoakan saya juga agar bisa bertemu di surga. Saya menyebut, pater pater SVD: Somhors, Timmermans, van Lieshout, uskup van den Tillard, Woterboor, de Boor, Adi Konterius, Meulendik, Thadeuz Barkoviak. Pater Beek SJ, Wileamborg, Reinders, Mulder, Mardisuwignjo pr dan lain- lain.

Lalu saya doakan semua orang tua, Papa, Kung Po dan kenalan yang sudah meninggal dunia, agar mereka semua sudah berada di rumah Bapa. Tentunya akhirnya saya mendoakan kesehatan isteri dan semua anak- anak, cucu cucuku, orang tua yang masih hidup demikian juga semua saudara. Saya pernah mendengar bahwa 15 menit pertama setelah menerima SMK, tubuh Kristus hadir dan sungguh hidup, Ia mengalirkan dalam darah kita. Setiap doa yang kita ucapkan lebih bagus.......

Sekarang setelah menjadi prodiakon untuk tahun ke lima, doa- doa yang saya ucapkan puluhan tahun silam ini masih saya lakukan. Memang kadang hanya singkat cepat karena bersamaan waktu membagikan SMK kepada umat di Katedral Semarang. Saya pulang dari perayaan Ekaristi dengan perasaan senang.

Rabu, 20 Februari 2008

Mama Sakit Keras

Tanggal 6 Pebruari, pagi pagi adik Ros yang menunggui mama di Oelolok mengabarkan mama (82) sesak napas, kondisinya sangat melelahkan. Desa kecil di pedalaman Timor jauh dari Fasilitas rumah sakit khususnya untuk mendukung pengobatan darurat seperti O2, maka mama dibawa ke Kefamenanu oleh sopir Anyi Kiu Kiupukan. Orang yang berbaik hati membantu mama. Ketika mencapai Maubesi saya mencoba menghubungi Ros, mengabarkan mama baik dalam posisi duduk. Setiba di Kefa langsung mendapat O2, selang berapa waktu mama menjadi sehat.

Hari itu, Atik (putri saya) dan Ahoi menantu sudah memesan kamar di rumah sakit, mendapat pavilium yang cukup baik untuk ukuran kota kecil di pedalaman pulau Timor. Dari Kupang Ani, adik saya minta langsung dibawa saja ke Kupang, namun dokter menasehati agar istirahat dulu karena tekanan darah mama 110 dan 190. Besok paginya Ani dan kakak Fie datang dari Kupang, hari itu hari raya Imlek. Suasana di RS menjadi ramai karena banyak anak dan cucu serta keluarga dekat datang menjenguk mama.

Hari Jumat malam jam 19:30, saya menerima berita, kondisi mama sedang payah dan minta saya sempatkan melihat mama. Yah, dari Semarang, jarak demikian jauhnya, saya tak berdaya. Hati ini terasa hilang, perasaan berbaur bermacam-macam dugaan. Usia tua dan kondisi terakhir ini membuat saya putusan untuk segera mencari tiket ke Kupang. Penerbangan Semarang ke Kupang bisa menggunakan Sriwijaya airline, dengan harga tiket Rp. 798.000. Lumayan mendapat tiket rada murah.

Pagi itu saya sempat kawatir, karena hujan lebat semalaman bisa membuat penerbangan batal atau dilay. Untung tidak ada kendala, diantar isteri saya jadi berangkat jam 08:30, kemudian melanjutkan juga menggunakan Sriwijaya dari Surabaya dan tiba di Kupang jam 13:30 WIT. Tidak ada yang menjemput, sehingga saya bermaksud menumpang kendaraan umum. Sangat beruntung, ada pater Jon SVD, ia sebenarnya mau menjemput seorang kenalannya yang baru pindah dari Jakarta ke Kupang, namun ia sudah di jemput oleh kesatuannya. Jadilah saya diantar romo Jon, sampai ke rumah sakit.

Paginya romo, sempat ikut memindahkan mama dari rumah sakit tentara ke rumah sakit umum YWZ Johanes Kupang, sehingga mudah bagi saya menemui Mama. Hujan sangat lebat, sehingga kami mencari jalan pintas, lewat kamar jenazah. RSU yang sedang direnovasi besar besaran membuat kami mencari jalan sempit, gang dan akirnya sampai di kamar nomer 16.

Perasaan saya sedih, melihat mama terbaring, sambil selang O2 dan infus ada tertancap pada tubuhnya. Mama tidak kurus, bahkan bisa disebut gemuk. Keadaan ini membuat mama susah bangun dan harus dibantu saudara saudara. Banyak orang berada dalam ruangan itu, karena sakitnya orang tua maka banyak yang ingin menyatakan perhatiannya.

Keluarga kami, keluarga yang dekat dengan biarawan maupun biarawati, maka terus saja ada imam, suster yang datang berdoa untuk mama. Sabtu itu mama nampaknya cukup kuat, hanya gelisah minta mau pulang ke rumah. Saya dekat dan memegang tangan mama, dan bicara sambil menempelkan mulut ke telinga mama, karena pendengaran mama sangat merosot. Mama juga sudah susah mengenali orang, ketika saya datang lama dan setelah berulang kali diingatkan baru mama menyebut nama saya.... keu..........

Mama tidak suka menggunakan pempers karena risi dan gatal, sehingga berontak minta ke kamar mandi, padahal kondisi ini tidak memungkinkan, mama sudah sangat lemah, untuk bangun saja harus dibantu orang lain. Sampai pagi kakak Maria duduk di dekat tempat tidur saya dan adik berikut dua putri penunggu mama berada di ruangan ini. Kami tidur, seperti tidur ayam, sebentar sebentar bangun. Karena hari minggu, pagi itu saya minta untuk menghadiri perayaan ekaristi di Katedral Kupang. Baru duduk tidak lebih dari 5 menit, misa belum di mulai ada bunyi hp pada ipar, ada berita mama anfal. Maka saya tidak jadi ikut perayaan misa dan segera ke rumah sakit.

Mama duduk, napas sesak, adik yang pertama mendapatkan mama sesak sempat panik karena sesak yang luar biasa, akhirnya mama menjadi lemah. Kondisi menjadi lebih baik, setelah kadar O2 dinaikan. Lalu sepanjang hari mama sehat lagi. Sore hari, mama mengeluh jarum infus membuat nyeri di tangannya, mama tak dapat bicara tetapi kami anak-anak merasakan mama sedang merasakan sakit. Akhirnya perawat datang memindahkan ke tangan lainnya.

Malam itu suasana kamar no 16 ini rame sekali. Ada sejumlah suster bersama suster Yosefin mereka mengajak mama berdoa rosario, sambil kakak berdoa di telingan mama, sehingga sesekali mama mengucapkan ...Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertaMu...... dengan suara sangat lirih. Sampai peritiwa ke tiga saya melihat mama sudah kepayahan, akhirnya doa dihentikan, dan mama istirahat.

Mama menjadi bersemangat lagi karena ada berita dari romo Octa, bapak Uskup Atambua mau menjenguk mama di rumah sakit. (Beliau datang karena memberikan mata kuliah filsafat di seminari tinggi Kupang). Akhirnya Bapak Uskup datang, kami semua ada, kakak Maria, Ros, Ani dan beberapa tamu. Bapak Uskup menggunakan kuasanya sebagai Uskup memberikan berkat khusus kepada mama, saya berlutut mengikuti upacara yang jarang saya saksikan itu. Selama duduk di samping mama, Bapak Uskup selalu mengenggam tangan mama, sepertinya memberikan, menyalurkan kekuatan agar mama sehat kembali. Malam itu, kami juga menunggu adik suster Marileta SSpS, yang datang dari Lalurus. Walaupun sudah kami kabarin mama membaik, tetapi ia tetap mau datang, karena katanya "hati sonde enak" walaupun ia mesti datang lagi ke Kupang hari Minggu tanggal 17 Pebruari.

Sepanjang hari Senin, mama sehat, sehingga saya minta pulang Semarang pada Selasanya. Kakak sudah menyiapkan kamardi rumahnya, dilengkapi dengan AC dan pinjaman O2 dari orang berbaik hati di Kupang. Kakak Maria terkenal di Kupang sebagai pelayan yang melayani umat maupun para imam dan suster.

Selasa pagi saya siap untuk pulang, jam 4 saya sudah bangun dan tepat jam 05.00 saya mendekati ranjang mama. Saya menyingkirkan sedikit selimut, sambil berdoa saya mencium kaki mama. Mama berdoalah untuk kami anak-anak.

Jumat, 08 Februari 2008

Selamat Pulang ke rumah Bapa

Dalam dua tahun terakhir saya sebagai prodiakon sudah mengantar 5 orang tua ke tempat peristirahatan yang terakhir. Bu Kusko termasuk termuda karena meninggal dunia pada usia 67 tahun. Tetapi lainnya berusia diatas 80 tahun.

Pagi itu 1 Pebruari 2008 saya mengantarkan Om Loen, dibaptis atas nama Yosef. Beliau meninggal dunia seperti mesin kehabisan bensin, selesai karena usia tua. Beliau mungkin sakit akibat kesedihan yang luar biasa karena ditinggal meninggal dunia isteri tante Cing, ibu Veronika. Cukup banyak yang melayat dan bahkan ada cykup banyak mengantar sampai ke crematorium, menghantar kepergian orang tua berusia 87 tahun ini. Ketika di kamar jenazah saya mengutip amzal dan di tempat kremasi saya memakai bacaan dari

Sirak: Seperti halilintar mendahului guntur, begitu juga nama baik mendahului orang yang rendah hati. Jagalah nama baikmu, sebab nama itu tinggal bagimu lebih lama daripada seribu harta emas. Hidup sejahtera terbatas waktunya, tetapi nama baik bertahan selama-lamanya.
Beberapa di antaranya m
eninggalkan nama baik, dan masih terus dipuji orang.
Jenazah mereka dimakamkan dengan tentram dan nama baik mereka dikenang sepanjang jaman. Hendaklah berkuasa dalam segala urusanmu, da
n jangan menodai nama baikmu.
Hidup bahagia hanya berlangsung sejumlah hari terbatas, sedangkan nama yang baik tinggal untuk selama-lamanya. Beberapa di antaranya meninggalkan nama yang harum, dan masih terus dibicarakan dengan hormat. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun.

Amsal: Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut; jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena. Dan seterusnya…………..

Kalau saja Om sempat saya tanya pasti ia akan mengatakan, tolong sampaikan pesan kepada anak-anakku, agar mereka saling mengasih dan menjaga nama baik keluarga kita. Tidak semua dari mereka memiliki cukup uang, oleh karena itu saling membantu meringankan beban. Ingat nama baikku, sebagai orang tua yang pulang ke rumah Bapa pada usia 87 tahun. Jangan mengambil yang bukan hakmu, dan sombong apalagi bensi dan irihati.

Saya menyampaikan contoh, dua orang teman saya dari ATMI, satu kanker paru stadium lanjut, satu yang lain gagal ginjal. Kami mendapat moner rekening BCA, kami tergugah dan setiap bulan ada yang mengirimkan sejumlah uang ke tabungannya sampai bernilai puluhan juta. Kami hanya bertemu 3 tahun karena sama sama di ATMI. Itu sudah cukup waktu mebuat kami saling kasih dan kalau dibandingkan dengan kita dalam keluarga, puluhan tahun, minimal 50 tahun bersama-sama, bukankah lebih besar kasih yang sudah saling kita terimakan? Saya mendengar satu minggu sebelum beliau meninggal dunia, beliau ingin menyampaikan sesuatu pesan tetapi tidak terucapkan sampai dipanggil Bapa.

Akhirnya kami menyampaikan selamat jalan, kepada Om Yosef yang sudah kembali ke rumah Bapa.